Selasa, 06 September 2011

Lelaki Tak Punya Doa

Lelaki tua tak tahu dosa
Padahal umur sudah mencapai ujung tanya
Namun masih tertawa terbahak sesukanya
Tak sadar dengan kematian sedikit lagi memeluknya

Suara toa bersimponikan Adzan
Tetap saja ia mainkan batu di simpang jalan
Entah apa yang di urai dalam keseharian
Belum juga tersadar dengan semua tanda di depan

Jauh sudah kakinya melangkah liar
Pengalaman hanya bisa menjadi akar
Tidak ia jadikan sebagai pengingat dasar
Ketika matinya batu simpang jalan menjerit koar

Dalam Puisiku

Masih ada yang belum merdeka,
tidakkah kau merasa ?
aku menangisimu lelaki jalanan.
Ibu-ibu tegar berharap hari ini dan lusa dapat menggantikan baju anaknya yang bertahun-tahun lusuh bernoda peluh.

Kau memang di takdirkan terjajah oleh waktu?
Kekuatan lelakimu pun tak sanggup membeli sepotong baju yang di hargai sepuluh ribu

Bocah kecil bernyanyikan peluh di badan, Tegarlah !! menghadapi kerasnya kemerdekaan.
kelak suatu saat, Takdir kedua harap Ibu dan Ayahmu dapat kau sulap menjadi nyata.
yakinlah, Bermimpilah,
Kirimkan senandung doa itu kepada yang Esa Satu. Allahu.
maka terjadilah apa permintaanmu.

Pilo. 17.08.11

Mereka Dan Kita

Terketuk,
Tak juga sadar,
Malah lupa dasar,
Terlihatlah koar.

Air tangisan,
jatuh bersisian,
hanya pelepas,
Dahaga tak berirama pantas.

Sosok dua,
Tertidur pulas,
nyamuk jadi teman,
Dalam malam, kelam semalaman.

Dalam Satu

Niat di hati pelengkap samat.
Penghibur jiwa berbeda uzlat,
Jika benderang tak lagi pekat,
Ku simpan ia ke dalam watak.

Ketika kita tak lagi meniru,
Syarat bertemu sangatlah dekat,
Untuk mencapai niat terkesumat,
Tundukan hati lapangkan sifat.

Akarnya kecil bertumbu karang,
Ketika memandang terkuburlah garang,
Sifat tinggi hanya satu yang di genggam,
Pastilah engkau mengerti maksud ku Agam.

Pilo. 14.08.11

Dalam Ingkar

Deru menggebu harap bersatu
Menggerakkan segala kisah merayu
Antara kenyataan dan kesilapan manusia itu
hanyalah satu antara seribu salahku

Ketika liar pikiran menyebar
Kirimkan hasrat yang sangat membakar
Kini kutahu segala salah yang menebar
Kucoba telisik disetiap akar

Menyesal sudah tak bermakna
Untuk apa menghilangkan rasa
Biarlah kupendam dalam dosa
mungkin suatu saat akan terbebas jua, 
dengan Nasuha

 08.08.11

Dalam Sujud

Masih disini sambil berdiri dan duduk
menerawang ke angkasa yang tak pernah berjanji muluk
hanya warna yang ia hadiahkan untuk kita peluk
dalam artian bersegeralah kita bersujud takluk

Masih disini sambil berdiri dan duduk
mencoba memaknai arti kelahiran makhluk
ada tujuan-Nya yang belum kita keruk
mungkin perlu untuk kita dalami dengan khusyuk

Masih disini sambil berdiri dan duduk
mengeja baris-baris dengan telunjuk
pantang menyerah apalagi mengeluh kikuk
walau belum bisa membuatnya bertekuk
tetap berusaha mencari makna dalam sujud

Pilo. 18.06.11

Rabu, 22 Juni 2011

Untukmu Sahabt Unyuku.. Dinar Atfa Cholifah (Nina Bibeh)

Sahabat !!

baru saja aku dengar kabar bahwa engkau telah berpulang, telah pergi untuk selamanya, dan kini tangan-tangan malaikat sedang membawamu kesurga.

Sahabat !!

Begitu indah kesanmu di kelas ini, canda tawamu, ramah sapamu, senyum unyumu pun tersebar di selurh ruangan sendu.

Sahabat,

Jika memang ini sudah kehendak, aku pun tak bisa mengelak, karena itu adalah takdir yang esa, dan engkau kelak akan berada disurga.

Sahabat !!

Maafkan aku saat kemarin tidak bisa menghiburmu, dari kemarin engkau menyimpan sejuta rahasia atas kegalauanmu, sekarang engkau telah benar-benar pergi kesurga yang telah kau pilih itu.


Kulihat lagi makam itu
Bertaburan bunga sendu
Sungguh pilu merasuk relung hatiku
Dan terjawab sudah keraguan di dalam kalbu

Intan bersusun tiga
Itulah milikmu Dinarku sayang
Ambillah untukmu sekarang
Agar tidurmu sungguh lapang

Unyumu akan selalu kami simpan
Di setiap detakan irama percendolan
Tak akan ku buang walau secuil tetesan
Tunggu aku berkunjung di peraduanmu, Dinar ku sayang.

pilo. 20.06.11

Selamat Jalan Sahabatku. @dinar ♥

Pilo