Selasa, 06 September 2011

Tarian asap, bergoyang dan perlahan hilang

Bukan ini yang ku risaukann..
hanya, sesuatu yang sedikit menggelitik..
tentang duduk tak berperan. Salahkah?

Sedikit tak berarti sempit..
Duduk tak berperan, seperti diam tak bernafas..
Tak salah, namun mampukah?

Ingat pesan dahulu.. "Sedikit berlama jadi bukit"
Namun pasti ada jalan yang tak terlalu sempit dan picik..
sangat mendebarkan, Mencoba beralih ungkapan.

Bukitpun apa guna, bila tak hijau dan tandus..
Berkeliling di taman bunga,punya hidung tak mampu mengendus..
Berjalan di atas dunia, punya hati tak kenal tulus..

Aku yang berlabuh, kenapa ada yang gaduh ?
salahkah laut yang membelah belengguh..
tentang keinginan yang terangkai tanpa unduh.

Biarlah gaduh para perusuh..
Langit takkan runtuh, gemintang tetap utuh..
Petiklah satu di peraduan shubuh.

Pilo Poly dan Ambia Mursalin II
Kamis pukul 23:30 melalui seluler.

Inikah Rasa

Nada bicara seperti alunan Biola
Bersimponi sampai tarikan napas kedua
Akupun tergoda dengan nada cinta
Yang kau hempaskan di relung terdalam jiwa

Lalu kuraih tanganmu dengan kerlipan manja
Kuajak engkau merasai getaran di dada
Adakah seperti ini yang kau rasa
Ketika hatiku berdebar asmara

Hentakan jiwamu jiwaku bersatu rasa
Menikmati indahnya alunan irama
Dalam satu rasa kita bersama
Sampai akhirnya terjalin pernihakan nyata
Aku dan kamu satu adanya
Dalam cinta

Pilo.24.Augustus.11

Lelaki Tak Punya Doa

Lelaki tua tak tahu dosa
Padahal umur sudah mencapai ujung tanya
Namun masih tertawa terbahak sesukanya
Tak sadar dengan kematian sedikit lagi memeluknya

Suara toa bersimponikan Adzan
Tetap saja ia mainkan batu di simpang jalan
Entah apa yang di urai dalam keseharian
Belum juga tersadar dengan semua tanda di depan

Jauh sudah kakinya melangkah liar
Pengalaman hanya bisa menjadi akar
Tidak ia jadikan sebagai pengingat dasar
Ketika matinya batu simpang jalan menjerit koar

Dalam Puisiku

Masih ada yang belum merdeka,
tidakkah kau merasa ?
aku menangisimu lelaki jalanan.
Ibu-ibu tegar berharap hari ini dan lusa dapat menggantikan baju anaknya yang bertahun-tahun lusuh bernoda peluh.

Kau memang di takdirkan terjajah oleh waktu?
Kekuatan lelakimu pun tak sanggup membeli sepotong baju yang di hargai sepuluh ribu

Bocah kecil bernyanyikan peluh di badan, Tegarlah !! menghadapi kerasnya kemerdekaan.
kelak suatu saat, Takdir kedua harap Ibu dan Ayahmu dapat kau sulap menjadi nyata.
yakinlah, Bermimpilah,
Kirimkan senandung doa itu kepada yang Esa Satu. Allahu.
maka terjadilah apa permintaanmu.

Pilo. 17.08.11

Mereka Dan Kita

Terketuk,
Tak juga sadar,
Malah lupa dasar,
Terlihatlah koar.

Air tangisan,
jatuh bersisian,
hanya pelepas,
Dahaga tak berirama pantas.

Sosok dua,
Tertidur pulas,
nyamuk jadi teman,
Dalam malam, kelam semalaman.

Dalam Satu

Niat di hati pelengkap samat.
Penghibur jiwa berbeda uzlat,
Jika benderang tak lagi pekat,
Ku simpan ia ke dalam watak.

Ketika kita tak lagi meniru,
Syarat bertemu sangatlah dekat,
Untuk mencapai niat terkesumat,
Tundukan hati lapangkan sifat.

Akarnya kecil bertumbu karang,
Ketika memandang terkuburlah garang,
Sifat tinggi hanya satu yang di genggam,
Pastilah engkau mengerti maksud ku Agam.

Pilo. 14.08.11

Dalam Ingkar

Deru menggebu harap bersatu
Menggerakkan segala kisah merayu
Antara kenyataan dan kesilapan manusia itu
hanyalah satu antara seribu salahku

Ketika liar pikiran menyebar
Kirimkan hasrat yang sangat membakar
Kini kutahu segala salah yang menebar
Kucoba telisik disetiap akar

Menyesal sudah tak bermakna
Untuk apa menghilangkan rasa
Biarlah kupendam dalam dosa
mungkin suatu saat akan terbebas jua, 
dengan Nasuha

 08.08.11